Tampilkan postingan dengan label Gendhu-gendhu Rasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gendhu-gendhu Rasa. Tampilkan semua postingan

Minggu, 29 Agustus 2010

Mudik

Setiap akhir bulan Ramadhan orang-orang disibukkan oleh sebuah kegiatan yang bernama mudik. Tak terkecuali saya.
Menyebut kata mudik, bayangan masa kecil menerawang di atas kepala.
Riuh rendahnya atau tepatnya bisingnya suara bedug di masjid yang dipukul tepat jam 12 malam sehabis tadarusan, yang tujuannya membangunkan orang untuk sahur, walaupun kenyataannya belum waktunya. Bahkan kadang-kadang saking gaduhnya menyebabkan pak kyai marah. Hal tersebut masih jelas tergambar di dalam ingatan. Setelah capek memukuli bedug dengan sekuat tenaga lalu pulang untuk makan sahur. Ya, waktu masih jam 1, tidak seperti sekarang waktu sahur dihabiskan sampai imsak. Kemudian kembali lagi ke masjid untuk meneruskan tidur sampai pagi.

Mudik adalah pulang.Pulang ke orang tua. pulang ke saudara sanak famili. Pulang ke kampung halaman. Pulang dengan segenap rindu dendam. Walau di hati ada beban. Tak bisa bahagiakan orang tua, tak bisa berbuat banyak untuk saudara sanak familinya. Tak punya andil bagi kampung halamannya.

Orang tua, saudara sanak famili, kampung halaman adalah tempat di mana kita pulang.
Seperti saat ditanya apa fungsi rumah. Selain jawaban yang sangat normatif menurutku rumah adalah tempat kita pulang.
Orang tua, saudara sanak familì, kampung halaman adalah adalah 'rumah' tempat kita pulang setelah pergi ratusan kilo meter mencari nafkah. Itulah mudik.

Aku juga akan mudik, insya Alloh.

Selasa, 22 April 2008

Hajatan

Memasuki 'bulan baik', maksudnya bulan yang dipercaya baik untuk menyelenggarakan hajatan, maka bulan ini banyak tetangga yang punya gawe alias hajatan, baik menikahkan,khitanan,maupun membangun rumah. Untuk yang menikahkan dan khitanan biasanya diselenggarakan sebagai hajatan besar dan menerima sumbangan. Orang yang menyumbang biasanya memberikan uang atau beras, yang besarnya tidak terbatas tetapi biasanya merupakan suatu kelaziman dalam masyarakat. Yang punya hajat tentu tak berhitung untung rugi, sebab penyumbang selain diberi haidangan,juga masih membawa pulang makanan yang disebut 'brekat'. Ada hal unik yang terjadi dalam sumbang-menyumbang ini. Sumbangan di sini seperti bukan merupakan sesuatu yang sukarela tetapi lebih mirip utang piutang, sebab kali lain harus mengembalikan jika penyumbang punya hajat dengan jumlah nominal minimal sama. Ada juga yang jauh hari sebelum hajatan sudah menyebar pengumuman tidak mau disumbang dengan beras murah (raskin) alasannya dia waktu menyumbang tidak pakai beras itu. Pengalamanku yang cukup memalukan pernah aku titip menyumbang kepada tetangga jauh, pulangnya tidak diberi oleh-oleh 'brekat' alasannya uang sumbanganku kurang jika dibanding dia menyumbangku dulu yang aku sendiri tak tahu jumlahnya, sebab aku tak pernah mencatat nominal sumbangan orang. Alamak, malunya....

Rabu, 02 April 2008

Belanja

Belanja atau 'shoping' sudah menjadi gaya hidup. Dari orang tua sampai anak-anak. Dari yang punya uang sampai yang harus utang. Dari orang kota sampai orang udik. Apalagi sekarang banyak betebaran mini market-mini market sampai pelosok desa. Alih-alih meningkatkan daya beli masyarakat, semakin meningkatlah konsumtifisme.

Selasa, 12 Februari 2008

Sesuatu yang Tidak Penting

Di era informasi sekarang ini banyak berita yg merupakan sesuatu yg tdk penting.Baik di koran,majalah,apalagi TV.Mereka menamai diri dgn 'infotainmen'.Selama 24 jam mereka menyajikan info-info yang tidak penting. Menurut saya apa perlunya tahu artis ini pacaran dengan itu,si anu mau bercerai,si ini punya koleksi itu,dll.Apa manfaatnya?Hiburan?Apa dgn tahu rahasianya kita terhibur?Dan yg terakhir tulis ini jg merupakan sesuatu yg tidak penting.